Jumat, 05 Desember 2014

Hujan November (Memoar Sendu)

"Vicky, aku merindukanmu" desisku di antara rinai hujan.
Masih di bulan November di tahun yang berbeda. Hujan dan November mengingatkanku padamu.
~~~~~

Mendung masih menggelayuti sore itu. Disusul rinai hujan. Kau yang menyambutku dengan payung hitam saat tubuhku basah kuyup di tepi jalan saat berteduh. Hujan dan pajung hitam mengawali pertemuan kita. Kau berkata 'kau tau, hujan itu anugrah. Karena turunya di iringi oleh malaikat, dan hujan yang mempertemukanku denganmu'
Pertemuan singkat yang masih terekam jelas dibenakku yang menyisakan sedikit goresan emas bertanda `sahabat`.
~~~~~
"Vicky, apa kau masih merasakan rinai persahabatan kita. Kau berjanji akan datang kembali padaku di bulan November dengan payung hitammu.
Tapi kau salah vicky, aku yang memegang payung hitam di dekat pusaramu tepat di bulan November.
Kau tak kembali padaku, tapi kau kembali pada Ilahi.
Kau memang anugrah Vicky, seperti halnya hujan.

Sahabat Beda Dunia

Hari ini adalah hari pertamaku masuk ke sekolah baru.
"ayo masuk" bu andin menyuruhku masuk. Beliau yang akan menjadi wali kelasku di sekolah ini.
"Iya bu" aku mengikuti langkah bu andin.

Selesai Memperkenalkan diri pada semua teman baru, aku di persilakan duduk di samping seorang gadis yang bernama Lia.
Semoga dia bisa jdi teman baikku disini.

Bel istirahat berbunyi..

"Qutz, ke kantin yuk bareng aku, sekalian akt tunjukan tempat-tempat di sekolah ini" ajak Lia.
"Maaf, Lia aku lagi pengen duduk di sini"
"Apa kAmu mau titip minuman atau apa gtu?" tanya dia lagi
"Ooh, boleh minuman dingin ya, ini uangnya" aku memberikan selmbar uang.
"Oke kmu tunggu di sini ya, hati-hati ya" ujarnya setengah berbisik. Lia pun bergegas keluar kelas.

Aku hanya sendiri di kelas ini. Tapi aku memang sangat menyukai tempat-tempat yang sunyi.

"Haii" terdengar sapaan dari belakangku.
Aku menengok ke belakang. Terlihat seorang cowok keren, tapi wajahnya terlihat pucat, bibirnya agak sedikit membiru.
"Haii juga, kamu siapa ?" ujarku sambil tersenyum.
"Kamu anak baru ya?" dia malah balik bertanya.
"Iya, nama kmu siapa?" tanya ku heran.
"Nama aku kenn, kamu bisa bntu aku ga ? aku yakin cuma kamu yg bisa bntu aku" tanyanya sambil memegang dagu.
"Bantu apa Kenn?"

"Haii yaqutt, ini minuman dinginnya" ujar lia sembari berlari ke arahku.
aku melirik ke belakangku, cowok yg bernama Kenn sudah tidak ada. Aku mencarinya, dia mnghilang begitu saja.
Apakah dia sejenis hmmm.. `hantu`..??
"Woii, kenapa bengong sih?" Lia mnyentuh pundakku.
"Lia, kmu kenal sama cowok yg bernama Kenn?"
"Ken siapa Qutz? yang namanya Kenn di sini banyak" membuka tutup botol dan meminumnya.
"Oooh gitu ya" jawabku datar

Aku meminum minuman yg di beli Lia.

Pulang sekolah..

Aku menunggu papah menjemputku, di halaman depan sekolah. Sekolah sudah agak sepi.

"Yaqutz" cowok yang brnama Kenn memanggilku.
"Kmu tau nama aku?"
"Aku tau dari Lia. Yaqutz aku mau minta tolong sama kamu" Kenn menundukan kepalanya.
"Boleh, bantu apa?"
"Ini tolong berikan ke cowok bernama Shadii di kelas 11 ipa 2 ya, makasih" Kenn menyerahkan selembar kertas.
"Tapikan aku ga kenal, Kenn"

Lagi-lagi Kenn Meninggalkanku.

Keesokan harinya..

"Lia kmu kenal sama yang namanya Shadii kelas 11 ipa 2 ga?"
"Irshadi bagas maksudmu? kenapa ? kamu suka ya ?" lia menyenggol tanganku.
"Ya mungkin saja maksudnya, Irshadi bagas itu"
"Nanti istirahat aku temuin dech sama dia"

istirahat..

Aku dan Lia menuju ke kelas 11 ipa 2.
"ini Qutz yang namanya Shadii" Lia memperkenalkanku pada Shadii.

Ya Tuhaaaan, wajahnya mirip sekali dengan Kenn !!!!!!
"Aku tinggl dulu ya, kamu ngobrol dech" Lia meninggalkan kami berdua.

"Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya sopan.
"Ini" aku menyerahkan selembar kertas yang aku dapat dari Kenn.
"Maksudnya apa ini?" Shadii mengerutkan kening.
"Aku dapat dari Kenn, Kenn yang menyuruhku memberikan itu ke padamu"
"Kamu gila apa ! , jgn ngarang deh !" Kata Shadii dengan suara agak keras.
"aku ga ngarang Shadii"
"Kapan kamu dapat kertas ini?" tanya Shadii
"Baru kemarin, Kenn yang memberiku kertas itu"
"Memang apa isi kertas itu?" tanyaku
lagi.
Shadii membukanya dan mmbacakan lagi untukku.

``TEMUKAN AKU DI SAMPING RUMAH POHON KITA, DI BALIK SEMAK``
TTD :: KENNENTH

"Pulang sekolah kita kesana" ujar Shadii tiba-tiba.
"maksuuuuudnya ap ?????????" tanyaku heran.
Tapi toh aku hanya mengiyakan.

Pulang sekolah..
Aku sengaja tidak minta papah utk mnjemputku.
Shadii mengajakku ke sebuah tmpat.
"Itu tmpatnya" Shadii menarik tangan ku.
Shadii langsung menuju ke balik semak dan menemukn gundukn tnah yg tidak terlalu tinggi. Dia dengan cepat mnghubungi sebuah nomor dengan Hpnya.
"Aku menemukannya ayah" itu kata yang sempat aku dngar.

Tak berapa lama kemudian seorang bapak beserta kedua polisi datang menghampiri kami.
"Apa benar Shadii?" tnya bapak itu kepada Shadii.
"Itu yah" shadii hanya menunjuk gundukan tanah itu.
"Shadii, sebenarnya ada apa?"
Shadii langsung memelukku dengan air mata metenes dri matanya.

Akhirnya dia menceritakan semua.

~ kenn adalah saudara kembar Shadii yang hilang 1 bulan yang lalu, keluarganya telah mencari Kenn.
Tetapi tak menemukan kunjung kepastian, dan Kenn memberikan selembar kertas itu padaku. Membuat Shadii dan keluarganya menemukan jawabn dan juga menemukan jenazah Kenn saat ini.
~ Ya Kenn memang sudah meninggal satu bulan yg lalu karena dibunuh oleh saingan kerja ayahnya.


Tiba-tiba Kenn berada di Sampingku..
" Makasih Qutz, aku yakin cuma kamu yang bisa" bisik Kenn yang memakai jas putih dan wajahnya terlihat segar, tidak pucat.
Dia juga tersenyum manis padaku. Lama-kelamaan, Kenn berlalu dari pandangnku.


~ SELAMAT JALAN KENN, sahabat baruku ~

Kamis, 06 November 2014

Kamu pikir kamu siapa?



kamu pikir kamu siapa?
datang dengan senyum, kemudian pergi meninggalkan luka?
kamu bilang aku adalah bintang di hidupmu.
tapi kamu tau?
bintang yang paling terang itu yang paling cepet mati !!!
aku ga segampang itu percaya sebenarnya, tapi kata-kata kamu itu bikin aku berharap lagi..

"jangan ngarepin aku lagi"
sungguh memang kamu adalah yang pertama ada disini (nunjuk jantung)
bukan hati loh, tapi jantung.
organ yang memompa darah ke seluruh tubuh..


Jumat, 26 September 2014

Aku Lelah..

Aku lelah..
dan teramat lelah..

beri aku jeda untuk menghela nafas sejenak, melupakan semua obsesi dan ambisi yang membebani pikiran ini.
biarkan aku menguapkan semua keluh kesah tanpa ragu untuk berkata apa adanya.
jika kau tak mampu mengerti aku, pergilah menjauh, karena aku tak butuh kau pahami dan  tak butuh agar kau mengerti.

aku lelah..

untuk sekian kali aku terjatuh, aku mencoba bangkit sendiri.
merasakan luka yang menyayat sendirian..
tanpa ada yang menopang,
mengulurkan tangan,
atau bahkan memberi semangat.
bukan aku tak butuh teman, bukan.. bukan itu sebenarnya..

alasanya sederhana..

KARENA AKU LELAH..

Selasa, 23 September 2014

Belajar Mencintai Pekerjaan.

suatu siang di dalam kelas, saat itu mata kuliah pengantar akuntansi sedang berlangsung.
Kami sedang membahas bab jurnal akun, entah bagaimana awal percakapan tidak penting ini terjadi.
Teman sekelas saya, Pak Jun namanya. saya memanggil beliau demikian karena memang usianya jauh dibanding saya dan teman-teman yang lain.

Awalnya dosen mengatakan jika mencintai pekerjaan itu seperti mencintai seseorang. Tetapi teman saya, pakJun itu menyanggah opini ibu dosen..

Begini kira-kira quotesnya :
" Mencintai pekerjaan itu tidak sama halnya dengan jika mencintai seseorang. Saat kita mencintai pekerjaan, maka pekerjaan itu akan membalas dengan mencintai kita. Beda halnya jika kita mencintai seseorang, belum tentu orang tersebut dapat mencintai kita. Karena dalam masalah pekerjaan, kita lah yang memegang kendali atas apa yang kita inginkan."


Sebenarnya percakapan ini  tidak ada kaitannya dengan mata kuliah hari itu, tetapi quotes itu cukup menarik untuk saya anggkat di blog ini, hahahaha..



SEKIAN

Minggu, 31 Agustus 2014

Ini Kelas Baru Loh

Ini pertama kalinya aku berangkat yang namanya kuliah. Berangkat dari temapt kerja jam sembilan kurang, di anter papah pake motor. Niat gak niat sebenernya, soalnya kaki masih sakit ngilu gitu rasanya.

Pas mau ke kampus, papah malah belok dulu beli plastik buat mbungkus mie, hemat waktu katanya, biar ga usah bolak-balik.

Aku masuk diantar sama papah, langsung di suruh masuk ruang lab. naik tangga pula, padahal kaki masih nyut-nyutan.

Pas aku masuk, ternyata di kelas cuma ada 4 orang. dua cewe dan dua lainya cowo. kebayang ga sih sepi banget, hehehehe...

Ya sudahlah, anggap aja ini kelas khusus gitu yanG sekelas cuma di isi orang-orang pilihan. hehehehehehe...

Rabu, 06 Agustus 2014

Mereka yang Rindu Kasih Sayang

Catatan ini adalah gambaran minggu-minggu lalu. Tepatnya H-7 dan H+7 Lebaran Idul Fitri. Mungkin biasanya pada pedagang akan kebanjiran pelanggan, dari yang berada di super mall, mini market, pasar tradisional, atau bahkan para pedagang pinjir jalan. Tapi ternyata bukan hanya mereka yang kepanjiran pelanggan, Dokter pun demikian. Pasien datang dengan jumlah yang berlipat ganda dari biasanya.

Kebanyakan dari mereka mengeluhkan sakit perut, mungkin gara-gara kebanyakan makan ketupat. hehehehehe...

ssssssssssssssssstttt...

Tapi banyak juga loh mereka yang datang hanya untuk mencari perhatian.
Bukan dalam artian negatif tentunya, Ibu-Ibu, Bapak-Bapak yang mempunyai anak yang bekerja di luar kota akan sangat rindu pada anaknya. Jadi saya pikir mungkin ini salah satu alasan banyaknya pasien pra dan pasca hari raya.
Berobat di dampingi oleh anak-anak tercinta tentu menjadi kebahagian tersendiri bagi mereka.

Selidik punya selidik gak jarang loh mereka hanya mengeluh sakit pinggang hanya gara-gara rindu pada anaknya.
loh? kok bisa?



Ibu atau Bapak yang rindu pada anaknya itu pura-pura sakit, agar si anak mau mengantarnya berobat. Padahal sebenarnya sakit yang di rasa tidak seberapa.
Perlu kita ketahui sebenarnya bukan sang dokter yang menyembuhkan penyakit si ibu atau si bapak tadi. Tapi melainkan karena rasa kasih sayang dari si anaklah yang menyembuhakan ibu atau bapak tadi.

Rindu yang di rasa dapat di obati, bukan oleh resep yang di tulis Dokter, tetapi hanya dengan kedatangan anak tercinta saja sudah cukup mengobati.

tentu saja ini sebagai alibi atau istilah kerennya modus lah, agar mereka dapat bersama anak mereka, membangkan mereka di hadapan teman-temannya. Mereka mengeluhkan sakit ini sakit itu agar mendapat perhatian

Kita sebagai anak harusnya dapat memahami dan mengerti perasaan orang tua, jadi tidak ada lagi alibi sakit dan sebagainya hanya untuk mengharap kasih sayang dari kita sebagi anak.